Contoh Makalah

Budaya Sekolah yang Kondusif bagi Pengembangan  Moral Siswa di Sekolah Dasar
Abstrak

Upaya pengembangan pendidikan, khususnya pendidikan di sekolah dasar telah banyak dilakukan oleh berbagai pihak. Namun, upaya yang dilakukan selama ini, lebih banyak menyangkut pada proses pembelajaran di kelas, kepemimpinan, dan manajemen pendidikan. Pembenahan pendidikan di sekolah melalui budaya sekolah, belum banyak diperhatikan dan dikembangkan. Pengembangan budaya sekolah bermanfaat bagi peningkatan prestasi siswa di bidang akademik dan non akademik, juga berpengaruh bagi keberhasilan dalam pengamalan nilai-nilai moral di sekolah. Pengembangan budaya sekolah yang kondusif bagi pengembangan moral siswa antara lain dapat dilakukan melalui : pemahaman guru akan nilai-nilai moral, keteladanan, menjaga komitmen bersama, mekanisme kontrol, dan pengalaman serta pengamalan nilai-nilai moral tersebut dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.
Kata Kunci      : Kultur/Budaya Sekolah, Pengembangan Nilai Moral

Pendahuluan

Pendidikan di era globalisasi sungguh menghadapi berbagai tantangan yang semakin berat. Perubahan pesat yang terjadi dalam berbagai bidang kehidupan di masyarakat, di satu sisi dapat membawa kemajuan, namun disisi lain juga membawa kegelisahan pada masyarakat. Salah satu hal yang menggelisahkan adalah persoalan moral. Orang merasa tidak lagi memiliki pegangan akan norma-norma kebaikan. Dalam situasi ini, terutama dalam pendidikan, dibutuhkan sikap yang jelas arahnya dan norma-norma kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Pendidikan tidak hanya dituntut untuk mengikuti dan menyesuaikan dengan perubahan sosial yang ada, namun lebih dari itu, pendidikan juga dituntut untuk mampu mengantisipasi perubahan dalam menyiapkan generasi muda untuk mengarungi kehidupannya di masa yang akan datang.
Salah satu tantangan pendidikan masa depan adalah tetap berlangsungnya pendidikan nilai, supaya nilai-nilai luhur yang menjadi acuan dalam perilaku dapat ditransformasikan dari generasi ke generasi, khususnya dalam rangka menepis berbagai dampak negatif dari perubahan sosial. Namun dalam kenyataannya, seperti diungkapkan oleh Sudarminta (Atmadi, 2000:3) sungguhkah kegiatan pendidikan kita, baik melalui jalur sekolah maupun luar sekolah sudah kita rancang dan kita laksanakan dengan kesadaran penuh akan perlunya mempersiapkan generasi muda kita agar mampu menghadapi tantangan hidupnya di masa depan?. Institusi pendidikan, terutama sekolah, selama ini dianggap sebagai salah satu lembaga sosial yang paling konservatif dan dinamis dalam masyarakat. Sekolah-sekolah sebagai lembaga pendidikan formal sering kurang mampu mengikuti dan menanggapi arus perubahan cepat yang terjadi di masyarakat. Supaya kegiatan pendidikan yang kita selenggarakan mampu membekali siswa dalam menghadapi tantangan hidupnya di masa depan, kita harus mampu mengantisipasi (berdasarkan kecenderungan-kecenderungan yang ada), apa yang menjadi tantangan hidup mereka di masa depan.
Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan siswa melalui kegiatan pengajaran, bimbingan, dan atau latihan bagi siswa dalam peranannya di masa yang akan datang. Pendidikan tidak hanya terlaksana di sekolah, namun juga berlangsung dalam keluarga dan masyarakat. Pendidikan merupakan proses pemanusiaan dan menyiapkan manusia untuk menghadapi tantangan hidup. Tanpa bermaksud mengecilkan upaya peningkatan kualitas pendidikan yang telah dilakukan, namun dalam kenyataannya memang banyak pembenahan yang harus dilakukan. Dalam kaitannya dengan upaya peningkatan kualitas sekolah misalnya, sekurangnya ada tiga aspek pokok yang perlu diperhatikan, yaitu a: 1) proses belajar mengajar, 2) kepemimpinan dan manajemen sekolah, dan 3) kultur sekolah (Depdikbud, 2000:10). Dua hal yang disebut pertama sudah banyak menjadi fokus perhatian berbagai pihak yang peduli pada peningkatan kualitas pendidikan. Namun faktor yang ketiga, yaitu kultur sekolah, belum banyak diangkat sebagai salah satu faktor yang menentukan, termasuk dalam upaya pengembangan moral siswa di sekolah.

Pendidikan Nilai dan Moral
Atmadi (2000:37) berpendapat bahwa nilai adalah suatu kenyataan yang tersembunyi di balik kenyataan-kenyataan lain. Maka dapat dikatakan bahwa kenyataan-kenyataan lain tersebut menjadi wahana pembawa nilai. Di balik segala sesuatu di dunia nyata ini, tersembunyi dunia nilai yang amat kaya, yang tersusun secara hirarkhis (bertingkat-tingkat). Dalam menghayati nilai-nilai, perlu ada kemahiran untuk menangkap nilai lewat pengalaman-pengalaman nyata. Untuk itu perlu keterbukaan hati bagi dunia nilai yang menyajikan pengalaman akan nilai-nilai, agar sentuhan nilai-nilai itu ditangkap oleh hati kita, kita membutuhkan keheningan, ketenangan, dan disposisi batin yang menunjang, yaitu yang memiliki sifat-sifat luhur.
Adapun tingkatan nilai menurut Atmadi (2000:73) antara lain adalah :
1. Nilai-nilai Kenikmatan.
Dalam tingkat ini, terdapat deretan nilai-nilai mengenakkan, yang menyebabkan orang senang atau menderita jika tidak enak.
2. Nilai-nilai Kehidupan.
Dalam tingkat ini, terdapat nilai-nilai yang paling penting bagi kehidupan. Misalnya kesehatan dan kesejahteraan umum.
3. Nilai-nilai Kejiwaan.
Dalam tingkat ini, terdapat nilai-nilai kejiwaan yang sama sekali tidak tergantung pada keadaan jasmani maupun lingkungannya. Misalnya : keindahan, kebenaran.
4. Nilai-nilai Kerohanian.
Dalam tingkat ini, terdapat modalitas nilai dari yang suci dan tidak suci.

Menyusun peringkat nilai pada dasarnya adalah untuk persoalan menentukan prioritas. Mengingat bahwa tingkah laku atau perbuatan kita selalu terkait dengan nilai tertentu, sebelum seseorang mengambil keputusan akan melakukan ini dan itu, dia lebih dahulu menentukan nilai mana yang mendasarinya. Sementara itu, di masyarakat ini tersedia begitu banyak nilai yang harus dipilih. Oleh karena itu, menyusun peringkat nilai-nilai hidup akan mempermudah seseorang untuk melakukan pemilihan nilai yang baik dan mendasari tingkah laku atau perbuatannya. Di pihak lain, dapat terjadi dalam satu tindakan atau perbutan, seseorang harus berhadapan dengan lebih dari satu nilai sekaligus. Dalam keadaan ini, seseorang harus memilih satu nilai yang membawa dirinya semakin ditingkatkan dalam nilai hidupnya. Dalam hal ini dijelaskan pula bahwa sesuatu itu bernilai bagi seseorang  jika menimbulkan perasaan positif, seperti : senang, suka, simpati, gembira, tertarik, demikian pula sebaliknya.
Pengalaman dan pengamalan/penghayatan nilai itu melibatkan hati atau hati nurani dan budi. Hati menangkap nilai dengan merasakannya, dan budi menangkap nilai dengan memahami atau menyadarinya (Atmadi, 2000:36). Sedangkan menurut Koentjaraningrat (2000:25), sistem nilai budaya yang merupakan tingkat yang paling abstrak dari adat, terdiri dari konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Karena itu, biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi perilaku manusia. Sistem-sistem tata perilaku manusia yang tingkatnya lebih konkrit, seperti aturan-aturan khusus, hukum, dan norma-norma semuanya berpedoman kepada nilai budaya.

Kultur Sekolah

Lembaga pendidikan, terutama sekolah semestinya dalam kapasitas tertentu dapat mengambil alih fungsi-fungsi transmisi nilai dalam keluarga dan masyarakat. Tentu saja, fungsi tersebut tidak seluruhnya dapat dibebankan kepada sekolah, karena adanya berbagai keterbatasan yang ada (Sairin, 2003:8). Sebagaimana halnya dengan keluarga dan lembaga sosial lainnya, sekolah merupakan salah satu lembaga sosial yang mempengaruhi proses sosialisasi dan berfungsi mewariskan kebudayaan masyarakat kepada anak. Sekolah merupakan sistem sosial yang mempunyai organisasi yang unik dan pola hubungan sosial di antara para anggotanya yang bersifat unik pula. Hal itu disebut kebudayaan sekolah. Namun, untuk mewujudkannya bukan hanya menjadi tanggung jawab pihak sekolah. Sekolah dapat bekerja sama dengan pihak-pihak lain, seperti keluarga dan masyarakat untuk merumuskan pola kultur/budaya sekolah yang dapat menjembatani kepentingan transmisi nilai moral.
Kebudayaan sekolah ialah a complex set of beliefs, values and traditions, ways of thinking and behaving (satu set komplek keyakinan, nilai dan tradisi, serta cara berfikir dan berperilaku) yang membedakannya dari institusi-institusi lainnya (Vembriarto, 2005:82). Kebudayaan sekolah memiliki unsur-unsur penting, yaitu :
1. Letak, lingkungan, dan prasarana fisik sekolah gedung sekolah, mebelair, dan perlengkapan lainnya)
2. Kurikulum sekolah yang memuat gagasan-gagasan maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan
3. Pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non teaching specialist, dan tenaga administrasi
4. Nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan iklim kehidupan sekolah

Tiap-tiap sekolah mempunyai kebudayaannya sendiri yang bersifat unik. Tiap-tiap sekolah memiliki aturan tata tertib, kebiasaan-kebiasaan, upacara-upacara, mars/hymne sekolah, pakaian seragam dan lambang-lambang yang lain yang dapat  memberikan corak khas kepada sekolah yang bersangkutan. Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa kebudayaan sekolah ini mempunyai pengaruh yang mendalam terhadap proses dan cara belajar siswa. Seperti dalam ungkapan “children learn not was is taught, but what is caught”. (Anak-anak belajar tidak adalah diajarkan, tapi apa yang tertangkap).
Apa yang dihayati oleh siswa itu (sikap dalam belajar, sikap terhadap kewibawaan, sikap terhadap nilai-nilai) tidak berasal dari kurikulum sekolah yang bersifat formal, melainkan dari kebudayaan sekolah itu. Penelitian J. Coleman terhadap sejumlah sekolah menengah di Amerika menunjukkan bahwa siswa-siswa di sekolah tersebut lebih menghargai prestasi olahraga, kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler, dan kepopuleran daripada prestasi akademik. Demikian pula penelitian yang dilakukan oleh Wilson pada beberapa sekolah menengah menunjukkan bahwa ethos sesuatu sekolah mempengaruhi prestasi akademik dan aspirasi para siswas mengenai pekerjaan. (Vembriarto, 2005:82).
Sistem pendidikan mengembangkan pola perilaku tertentu sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat dari siswa. Kehidupan di sekolah serta norma-norma yang berlaku di sekolah dapat disebut sebagai kebudayaan sekolah. Walaupun kebudayaan sekolah merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat luas, namun mempunyai ciri-ciri yang khas sebagai suatu subculture (Nasution, 2000:64). Sekolah bertugas untuk menyampaikan kebudayaan kepada generasi baru dan karena itu harus selalu memperhatikan masyarakat dan kebudayaan umum. Akan tetapi di sekolah itu sendiri timbul pola-pola perilaku tertentu. Ini mungkin karena sekolah mempunyai kedudukan yang agak terpisah dari arus umum kebudayaan.
Timbulnya kebudayaan sekolah juga terjadi akibat sebagian besar dari waktu siswa terpisah dari kehidupan orang dewasa. Dalam situasi serupa ini dapat berkembang pola perilaku yang khas bagi anak-anak muda yang tampak dari pakaian, bahasa, kebiasaan, kegiatan-kegiatan serta upacara-upacara. Sebab lain timbulnya kebudayaan sekolah ialah tugas sekolah yang khas yakni mendidik anak dengan menyampaikan sejumlah pengetahuan, sikap, ketrampilan yang sesuai dengan kurikulum dengan metode dan teknik kontrol tertentu yang berlaku di sekolah itu. Dalam melaksanakan kurikulum dan ekstrakurikulum berkembang sejumlah pola perilaku yang khas bagi sekolah yang berbeda dengan yang terdapat pada kelompok-kelompok lain dalam masyarakat (Nasution, 2000:65-66). Tiap kebudayaan mengandung bentuk perilaku tertentu dari semua siswa dan guru. Itulah yang menjadi norma bagi setiap siswa dan guru. Norma ini nyata dalam perilaku anak dan guru, dalam peraturan-peraturan sekolah, dalam tindakan dan hukuman terhadap pelanggaran, juga dalam berbagai kegiatan seperti upacara-upacara.

Mengembangkan Moral melalui Kultur Sekolah
Dalam dekade terakhir, adanya fenomena kekerasan dan berbagai bentuk pelanggaran lainnya marak terjadi di masyarakat. Untuk sementara, mungkin salah satu jawabannya adalah bahwa itu semua merupakan akibat dari kegagalan sektor pendidikan dalam melaksanakan pendidikan nilai (Atmadi, 2000:30). Nilai-nilai luhur yang  ditanamkan dan disosialisasikan lewat sekolah, tampaknya tidak masuk dan tidak berkembang dalam diri siswa. Padahal orang tua dan masyarakat telah mempercayakan pendidikan anak-anak mereka sepenuhnya pada sekolah. Pendidikan nilai tampaknya telah jatuh ke dalam “pengajaran riil’ yang indoktrinatif-normatif, yang hanya singgah sebentar menjelang dan saat ujian. Sesudah itu terlupakan, tidak pernah masuk ke hati, dan tidak pernah dilaksanakan dalam kehidupan. Apa yang dipelajari di sekolah tidak diletakkan dalam rangka mengembangkan pribadi dan demi menghayati hidup yang baik, melainkan hanya demi memenuhi tuntutan formal akademik sekolah.
Penyebab di balik semua kegagalan pendidikan nilai (Atmadi, 2000:31) antara lain adalah pendidikan sekolah yang klasikal dan semakin bercorak massal dan formal, sehingga proses pendidikan di sekolah menjadi dangkal dan tidak mendasar. Pelajaran-pelajaran menjadi sekedar upacara atau acara formal. Proses dan isinya tidak dipandang terlalu penting. Nilai-nilai ujian bisa diatur,  dan yang paling mencolok adalah minimnya aktivitas yang mendorong siswa untuk berefleksi dan berafeksi  untuk mengembangkan pemikiran yang kritis (critical thinking), pemikiran yang reflektif (reflective thinking), daya afektif, dan daya kreatif yang menjadi motor penggerak aktivitas hidup yang positif, produktif, dan konstruktif. Dengan demikian, proses pendidikan tidak menyentuh ke dasar hati, sehingga memang tidak memberikan pengalaman nilai yang menumbuhkan kesadaran nilai moral. Perilaku mereka menjadi tetap tak berkembang sebagai manusia yang baik.
Negara, masyarakat, sekolah, dan keluarga mengarahkan perhatian pada nilai-nilai yang penting untuk hidup, yang menjadi dasar untuk hidup bersama dan yang memperkaya manusia melalui norma-norma. Namun, norma-norma tidaklah identik dengan nilai-nilai. Norma hanyalah wahana untuk mewujudkan nilai. Fungsi norma adalah menghantarkan orang untuk dapat menyadari dan menghayati nilai-nilai. Maka, jika kita melaksanakan suatu norma dengan sungguh-sungguh merasakan dan menyadari nilainya, kita akan dapat menghayati nilai yang terkandung di dalamnya. Norma adalah aturan atau patokan (baik tertulis atau tidak tertulis) yang berfungsi sebagai pedoman bertindak atau juga sebagai tolok ukur benar atau salahnya suatu perbuatan. Sedangkan nilai menunjuk pada kualitas (makna, mutu, kebaikan) yang terkandung dalam suatu objek, tindakan, benda, hal, fakta, peristiwa, dan lain-lain termasuk norma. Norma itu lebih untuk dimengerti dengan rasio, sedangkan nilai itu untuk ditangkap (dirasakan) dan dihayati (dialami) dengan hati nurani (Atmadi, 2000:37).
Perubahan pesat yang dialami oleh bangsa Indonesia telah membawa kepada semakin kompleksnya masalah yang dihadapi, terutama jika dilihat dalam hubungannya dengan transmisi nilai-nilai (Sairin 2003:5). Jika dalam keluarga dan masyarakat terdapat gangguan dalam proses transmisi nilai-nilai tersebut, apakah mungkin sekolah mampu memainkan peran yang lebih besar daripada sebelumnya?.  Pendidikan nilai hanya akan berhasil jika di pihak siswa ada disposisi batin yang benar, antara lain adalah sikap terbuka dan percaya, jujur, rendah hati, bertanggung jawab, berniat baik, setia dan taat melaksanakan nilai-nilai, disertai akal budi yang cerah. Nilai-nilai itu tidak dapat dipaksakan dari luar, melainkan masuk ke dalam hati kita secara lembut ketika hati kita secara bebas membuka diri. Menurut Sindhunata ( 2000:110), pendidikan nilai ditujukan pertama pada penanaman nilai-nilai untuk menangkis pengaruh nilai-nilai negatif dalam artian moral yang merupakan akibat arus globalisasi. Untuk memerangi kecenderungan materialisme, konsumerisme, dan hedonisme misalnya, kita dapat menanamkan pada generasi muda nilai kesederhanaan dan cinta kasih kepada sesama, sekurang-kurangnya dalam bentuk kepedulian pada orang lain dan  kepada sesama teman. Kita juga dapat menanamkan pemahaman dan penghayatan nilai keadilan kepada siswa di sekolah. Kecenderungan sikap materialisme, konsumerisme, dan egoisme tersebut sebenarnya dapat dianggap sebagai cermin egoisme, kurang cinta kasih, dan kurangnya kepedulian pada orang lain.
Pendidikan nilai yang dilakukan secara formal hampir pasti tidak akan mengenai sasaran. Karena disposisi siswa tidak terbangun dengan baik, sehingga batinnya tidak membuka dan tidak siap untuk menerima nilai-nilai yang ditawarkan. Disposisi ini amat ditentukan oleh banyak factor, baik internal maupun eksternal. Faktor-faktor internal yang menentukan disposisi adalah : niat-motivasi dan arah-konsentrasi perhatian siswa. Sedangkan factor-faktor eksternalnya adalah sikap, tata ruang, dan dinamika hubungan antar subjek yang terlibat.
Pendekatan budaya untuk mengembangkan atau meningkatkan kinerja sekolah akan lebih efektif jika dibandingkan dengan pendekatan struktural (Sastrapratedja Dinamika Pendidikan, 2001:1). Pendekatan budaya dengan pusat perhatian pada budaya keunggulan (culture of excellence) menekankan pengubahan pada pikiran, kata-kata, sikap, perbuatan, dan hati setiap warga sekolah. Pendekatan budaya dalam rangka pengembangan budaya sekolah dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan atau  orientasi :
1) Pembentukan tim kerja dari berbagai unsur dan jenjang untuk saling berdialog dan bernegosiasi. Tim ini terdiri dari pimpinan sekolah, guru, komite sekolah, konselor, dan karyawan administrasi.
2) Berorientasi pada pengembangan visi. Pendekatan visioner menekankan pandangan kolektif mengenai yang ideal.
3) Hubungan kolegial. Melalui kolegialitas tim, akan muncul bagaimana sikap saling menghargai dan memperkuat identitas kelompok, bersama-sama dan saling mendukung.
4) Kepercayaan dan dukungan. Saling percaya (trust) dan dukungan (support) adalah esensial bagi bekerjanya organisasi. Tim dapat bekerja secara sinergis dan dinamik jika dua unsur tersebut ada.
5) Nilai dan kepentingan bersama. Tim harus dapat mendamaikan berbagai kepentingan. Menjadi tugas pimpinan untuk merekonsiliasikan kepentingan.
6) Akses pada informasi. Mereka yang bekerja dalam organisasi hanya akan dapat menggunakan kemampuannya secara efektif jika mereka dapat memperoleh akses pada informasi yang dibutuhkan.
7) Pertumbuhan sepanjang hidup. Lifelong learning dibutuhkan dalam dalam dunia yang berubah dengan pesat.

Berikut beberapa kegiatan yang dapat dilakukan sebagai upaya untuk menghidupkan kultur kelas/sekolah yang kondusif bagi pengembangan pendidikan nilai moral bagi siswa di sekolah :
1. Pemecahan masalah/Problem Solving
Siswa diajak berdiskusi untuk memecahkan suatu masalah konkrit.
2. Reflective Thinking/Critical Thinking
Siswa secara pribadi atau kelompok diajak untuk membuat catatan refleksi atau tanggapan atas suatu  artikel, peristiwa, kasus, gambar, foto, dan lain-lain.
3. Dinamika kelompok (Group Dynamic)
Siswa banyak dilibatkan dalam kerja kelompok secara kontinyu untuk mengerjakan suatu proyek kelompok.
4. Membangun suatu komunitas kecil (Community Building)
Siswa satu kelas diajak untuk membangun komunitas atau masyarakat mini dengan tatanan dan tugas-tugas yang mereka putuskan bersama secara demokratis.
5. Membangun sikap bertanggung jawab (Responsibility Building)
Siswa diserahi tugas atau pekerjaan yang konkrit dan diminta untuk membuat laporan yang sejujur-jujurnya.
Dari semua kegiatan tersebut, siswa dan juga gurunya akan mendapat kesempatan untuk banyak berinteraksi dan mengalami nilai-nilai dalam berbagai bentuknya yang konkrit, kontekstual, dan relevan bagi hidup mereka. Hal itu sekaligus akan membentuk dan mengembangkan kepribadian dalam hidup. Selain itu yang juga perlu diperhatikan untuk pengembangan nilai dan moral adalah :
1. Para pendidik terlebih dahulu harus tahu dan jelas akan akal budinya, memahami dengan hatinya nilai-nilai apa saja yang akan diajarkan (entah yang tersembunyi di balik setiap bidang studi atau nilai-nilai kemanusiaan lainnya.
2. Para pendidik mentransformasikan nilai-nilai tersebut kepada siswa dengan sentuhan hati dan perasaan, melalui contoh-contoh konkrit dan sedapat mungkin teladan si pendidik sehingga siswa dapat melihat dengan mata kepala sendiri alangkah baiknya nilai itu, misalnya melalui metode problem solving, valu clarification technique, dll.
3. Membentu siswa untuk menginternalisasikan nilai-nilai tersebut tidak hanya dalam akal budinya, tetapi terutama dalam hati sanubari si siswa sehingga nilai-nilaki yang dipahaminya menjadi bagian dari seluruh hidupna. Dalam tahap ini diharapkan siswa merasa memiliki dan menjadikan nilai tersebut sebagai sifat dan sikap hidupnya.
4. Siswa yang telah merasa memiliki sifat-sifat dan sikap hidup sesuai dengan nilai-nilai tersebut didorong dan dibantu untuk mewujudkan atau mengungkapkannya dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
Jika dalam praktik di masyarakat umumnya  menunjukkan adanya berbagai tindakan yang mencerminkan krisis moral, tentunya sulit bagi para pendidik di sekolah untuk melakukan pengamalan nilai-nilai moral secara efektif. Hal tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai moral telah dilecehkan di masyarakat. Bagaimana mengembangkan budaya sekolah dalam masyarakat tanpa adanya dukungan dari masyarakat, kultur sekolah yang kondusif bagi pengamalan nilai-nilai moral yang dengan susah payah dikembangkan di sekolah bagaikan angin lalu saja. Namun walaupun begitu, kiranya upaya pengembangan moral melalui kultur sekolah tetap harus diupayakan agar tercipta moral siswa yang baik.

Kesimpulan

Pendidikan merupakan proses mempersiapkan generasi muda untuk hidup di masa yang akan datang. Pendidikan tidak hanya dituntut untuk memberikan bekal pengetahuan kepada siswa mengenai apa-apa yang harus diketahui di masa depannya, akan tetapi lebih dari itu, pendidikan seharusnya juga dapat memberikan bekal nilai-nilai moral sebagai pegangan hidup generasi muda di masa depan yang berbeda dari kenyataan sekarang. Tanpa bermaksud mengecilkan berbagai pihak yang telah mengupaya perbaikan pendidikan, kiranya perubahan-perubahan masih perlu terus dilaksanakan. Upaya yang telah dilakukan selama ini, lebih banyak menyangkut pada proses pembelajaran di kelas, kepemimpinan dan manajemen pendidikan. Pembenahan pendidikan di sekolah melalui kultur/budaya sekolah, belum banyak diperhatikan dan dikembangkan. Padahal, pengembangan kultur/budaya sekolah tidak saja bermanfaat bagi peningkatan prestasi siswa di bidang akademik dan non akademik, namun juga berpengaruh bagi keberhasilan dalam pengamalan nilai-nilai moral di sekolah. Oleh karena itu komitmen berbagai pihak masih diperlukan demi terwujudnya kultur/budaya sekolah yang kondusif bagi pengembangan moral siswa di sekolah.

Daftar Pustaka
Atmadi, A. & Setianingsih, Y. (ed). 2000. Transformasi Pendidikan, Memasuki Milenium Ketiga. Yogyakarta : Penerbitan Universitas Sanata Dharma.
Depdikbud. 2000. Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan. Jakarta: Depdikbud
Nasution, S. 2000. Sosiologi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Sairin, Sjafri. 2003. Kultur Sekolah dalam Era Multikultural. Makalaah Seminar Peningkatan Kualitas Pendidikan Melalui Pengembangan Kultur Sekolah, Pascasarjana, UNY, 12 Juni.
Sastrapratedja, M. 2001. Budaya Sekolah. Artikel Majalah Ilmiah Dinamika Pendidikan No. 2/Th.VIII November.
Sindhunata (ed). 2000. Menggagas Paradigma Baru Pendidikan, Demokratisasi, Otonomi, Civil Society, Globalisasi. Yogyakarta : Kanisius.

Vembriarto, St. 2005. Sosiologi Pendidikan. Jakarta : Grasindo.


Makalahku
Makalahku

Referensi Artikel Terkait :


    Subscribe to receive free email updates:

    0 Response to "Contoh Makalah "

    Post a Comment